Arak Bali
Pelaksanaan ritual Hindu di Bali tidak bisa lepas dari arak dan berem. Dalam menghaturkan segehan, caru, arak, berem, tuak dan air memiliki peranan penting. Pada kegiatan religius masyarakat Bali arak digunakan sebagai sarana persembahan, arak, berem dan tuak digunakan sebagai persembahan kepada para Bhuta kala.
Salah satu kampung produsen arak Bali yang sangat terkenal yaitu di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Di desa ini sebagian besar warganya mengandalkan mata pencaharian dari membuat arak Bali. Asal muasal warga Desa Tri Eka Buana bisa memproduksi arak Bali ini tidak diketahui secara pasti. Diduga, pembuatan arak Bali di Desa Tri Eka Buana telah ada sejak tahun 1920an, pada zaman kerajaan Karangasem dan erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat sehingga tradisi membuat arak di desa tersebut sulit dihilangkan. Berawal dari para leluhur masyarakat Tri Eka Buana, yang ingin menjadikan wilayah desa ini yang dahulunya merupakan hutan belantara angker, untuk dijadikan sebagai pemukiman tempat tinggal. Namun selalu terjadi musibah hampir setiap tahun warga meninggal secara mendadak. Kemudian leluhur masyarakatnya berfikir dan mencari tahu apa penyebab dari musibah tersebut. Akhirnya secara niskala atau gaib mendapatkan wahyu, bahwa penyebabnya adalah karena gangguan Roh Jahat atau Bhuta Kala. Para Bhuta kala inilah yang ingin mengambil roh manusia. Dari pikiran secara niskala atau wahyu gaib leluhur tersebut munculah kemahiran dalam pembuatan arak. Sehingga sampai saat ini Masyarakat di Bali ketika ingin menghaturkan sesajen atau segehan harus dilengkapi dengan sarana tetabuh yaitu arak, sebagi penetralisir.
Bahan baku utama dari pembuatan arak Bali ini adalah air nira kelapa. Sedangkan peralatan yang digunakan dalam pembuatan arak bali adalah, pisau besar dan jirigen untuk (ngirisin) penyadapan tuak, gentong plastik sebagai penyimpan nira kelapa dan untuk proses fermentasi,tungku api kayu bakar, kekep, tiga pipa bambu, 3 kendi sebagai bagian dari alat destilasi tradisonal penampung Arak serta 1 kendi sebagai tempat penyimpanan arak hasil sulingan, kumpulan dari ketiga kendi alat destilasi.
Proses produksi Arak Bali diawali dengan ngirisin (penyadapan) nira mengumpulkan 80-90 liter. Setelah terkumpul dilakukan proses nuakin (fermentasi) selama 3 hari dengan menambahkan sabut kelapa ke dalam nira. Setelah nira kelapa terasa asam dan beralkohol, lalu nira dimasukkan ke dalam kekep kemudian dipanaskan di atas tungku dengan api sedang selama 8 sampai 10 jam dalam proses pemanasan kekep ditutup rapat. Ketika proses pemanasan ini pada alat destilasi tersebut harus ditambahkan daun kopi atau daun keladi yang sudah ditumbuk, dioleskan pada rongga atau celah-celah lubang udara penutup kekep, dan rongga kecil pada sambungan pipa bambu agar uap dari tuak tersebut benar-benar tidak bocor dan uap destilasi masuk ke dalam kendi penampung. Proses ini dilakukan selama 8 sampai 10 jam sampai niranya habis pada kekep tersebut.
Kemahiran tradisional arak Bali yang telah dilakukan antar generasi secara turun- temurun dan mampu bertahan sampai saat ini, tentu saja karena memiliki fungsi, dan nilai pada masyarakat pendukungnya.
Kemahiran tradisional pembuatan arak bali ini tentu berfungsi sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Dengan memproduksi arak, masyarakat bisa mendapatkan tambahan penghasilan untuk melangsungkan dan memenuhi kebutuhan kehidupannya.
Arak bali ini juga memiliki Fungsi sebagai pelengkap upacara, dimana hampir setiap kegiatan upacara di Bali selalu menggunakan sarana petabuh Arak Bali. setiap menghaturkan segehan dalam upacara yadnya, selalu dilengkapi dengan pemakaian tetabuhan,(arak, berem, tuak).. Sebagai sarana pelengkap upacara tetabuhan yang terdiri dari arak dan brem Kedua minuman ini dikenal dengan nama merupakan simbol dualitas yang banyak bertebaran di Bali. Tetabuhan Arak Berem memiliki fungsi sebagai pelengkap setiap upacara di Bali. Hal ini dikarenkan| Arak/Tuak merupakan simbol dari aksara suci "Ah-kara", sedangkan Brem adalah simbol dari aksara suci "Ang-kara".
Kemahiran tradional arak bali ini juga berfungsi sebagai pengikat solidaritas, bagi para penikmat arak Bali, Masyarakat yang sering menkonsumsi arak bali cenderung memiliki rasa solidaritas antar sesama pencinta minuman lokal ini. Sering berkumpul dan menikmati tegukan arak bali secara bersama-sama akan senatiasa membangun kebersamaan dan memperkuat ikatan kekerabatan pada masyarakat.
Arak bali juga berfungsi sebagai bahan pengobatan tradional. Selain diminum, Arak Bali ini juga dipercaya digunakan sebagai boreh atau lulur dan dicampur dengan rempah atau biji-bijian. Masyarakat mempercayai ramuan boreh dengan arak ini mampu meredakan rematik atau pegal-pegal.
Salah satu nilai yang terkandung pada arak bali adalah nilai religius, karena arak bali merupakan sarana sesaji atau pelengkap upacara pada upacara di Bali. Dengan melaksanakan Yadnya atau pengorbanan dan persembahan dangan tulus iklas, masyarakat percaya Ida Sang Hyang Widhi (Tuahan Yang Maha Esa) akan selalu memberikan rahmat dan berkah keselamatan bagi yang melaksanakannya.
Pada kemahiran trdisional pembuatan arak bali ini tentu memiliki nilai ketangguhan. Ketangguhan tampak pada dari pencarian bahan baku sampai proses produksinya. Masyarakat pembuat ara ini setiap hari bertaruh nyawa untuk mendapatkan nira, dengan memanjat pohon kelapa yang tingginya sekitar 10-30 meter. Mereka rata rata memanjat sampai 20 pohon setiap pagi dan sore. Selain itu pada proses pengumpulan Nira, harus sabar menunggu hingga mendapatkan nira yang cukup banyak harus menunggu selama beberapa hari, baru nira atau tuak bisa dimasak. Ketika memasak memerlukan ketangguhan dan kesabaran yang luar biasanya, karena harus terus menjagga api, agar api tetap menyala sedang sampai 8 jam untuk mengahasilkan berapa liter arak.