Jaja Laklak
Jaja Laklak merupakan salah satu kuliner berupa jajanan tradisional yang ada di Provinsi Bali yang tergolong dalam domain WBTB Kemahiran Dan Kerajinan Tradisional. Jaja Laklak berdasarkan bentuk WBTB-nya tergolong dalam makanan atau minuman tradisional. Jaja Laklak dibuat dari adonan tepung beras, air dan garam,yang dimasak di atas tungku menggunakan cetakan khusus, serta pada penyajiannya dilengkapi dengan kelapa parut dan gula merah yang dicairkan sebagai sausnya. Konsep Jaja secara etimologis berasal dari bahasa Bali berarti kue atau jajan,sedang kata Laklak berasal dari kata la (dibaca le) : yang berarti“lengah” dan kata lak berarti “yang akan datang”.Jadi kata Laklak secara etimologis diartikan jangan lengah dengan kehidupan yang akan datang atau semacam pengingat pada manusia agar selalu waspada dalam kehidupan di dunia ini (Dwijendra TatwaNo. Va/109). Jaja Laklak tergolong kue basah yang merupakan kue mungil berbentuk lingkaran berdiameter 3 cm. Secara umum, Jaja Laklak berwarna putih dan ada pula yang berwarna hijau, hitam maupun merah muda.
Keberadaan Jaja Laklak di Bali sangat berhubungan dengan sejarah perkembangan Agama Hindu dengan ritualnya yang memerlukan simbolik sarana upacara dan upakara yang disebut Panca Yadnya (Bagus, 1971 : 301). Sejarahnya berawal dari kedatangan Dang Hyang Nirartha (seorang pendeta Hindu dari Jawa) ke Bali dalam tahun 1500 M menyebarkan ajaran Hindu. Beliau memperkenalkan Jaja Laklak pertama kali sebagai persembahan kepada seluruh makhluk kasat mata yang ada di alam ini di bawah penguasa yang gelar Ratu Niang Sakti, (Lontar Dwijendra Tatwa No. Va/109). Selanjutnya Dang Hyang Nirartha diangkat sebagai Bagawanta (Pendeta kerajaan) di kerajaan Gelgel Bali pada masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong pada abad ke-15, dengan gelar Dang Hyang Dwijendra (Mirsha,dkk. 1986 : 132). Sejak itu semakin diperkenalkan lagi penggunaan Jaja Laklak secara lebih luas dalam upacara di Bali yaitu selalu ada pada seluruh upacara Panca Yadnya, yang fungsi utamanya adalah sebagai jajanan sesaji upakara (Wawancara dengan Ida Pedanda Gede Buruan Manuaba di Geriya Gede Manuaba Punggul, Hari Kamis : Tanggal 18 Februari 2021). Setelah Dang Hyang Dwijendra tidak ada, maka penggunaan Jaja Laklak dipertegas lagi melalui beberapa catatan naskah lontar upakara yaitu dalam “Lontar Tegesing Sarwa Bebanten” pada lb. 26a disebut bahwa Jaja Laklak digunakan dalam setiap upacara Panca Yadnya (Nyoman Suarka, dkk. 2018 : 42). Selanjutnya keberadaan Jaja Laklak dalam upakara di Bali dipertegas lagi dalam “Lontar Dewa Tatwa” pada lb. 23a disebut bahwa dalam setiap upacara besar di Bali harus menghaturkan sesaji Jaja Laklak (Nikanaya, dkk. 2005: 245). Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang di Bali, tidak pernah disebut tentang keberadaan Jaja Laklak di Bali, karena bangsa penjajah tidak tertarik dengan jajanan yang merakyat saat itu, sehingga catatan tentang Jaja Laklak tidak pernah ada pada masa itu. Namun demikian Jaja Laklak tetap dijajakan oleh masyarakat Bali terutama di pasar-pasar tradisional (lihat bukti foto lama pedagang Jaja Laklak di bawah). Pada perkembangan selanjutnya seiring pesatnya perkembangan pariwisata di Bali dalam tahun 1980-an, Bapak I Ketut Sutarman mengembangkan Jaja Laklak di Bali untuk kebutuhan konsumsi dengan menciptakan Jaja Laklak Biu di Desa Penebel Tabanan-Bali. Selanjutnya dalam tahun 1990, Bapak I Gede Rena dari Desa Pancasari Kecamatan Sukasada Kabupaten Singaraja, mengembangkan Jaja Laklak Aneka Rasa Buah untuk memenuhi selera konsumennya, sehingga Jaja Laklak dalam hal ini berfungsi sebagai jajanan tradisional yang nikmat untuk dinikmati hingga sekarang. Bahkan telah merambah pasar-pasar online melalui warung-warung Jaja Laklak yang sangat terkenal di Bali seperti Warung Laklak Biu Men Bayu, Warung Laklak Rama, Warung Laklak Fresh Men Gabrug.
Proses pembuatan Jaja Laklak tidaklah sulit, dan memerlukan beberapa bahan yang juga mudah diperoleh. Adapun bahan-bahannya seperti tepung beras yang baru habis dibuat agar kualitas kue yang dihasilkan menjadi empuk dan tidak melempem, air putih dan santan kelapa untuk mencairkan tepung beras menjadi adonan yang encer, pewarna berupa air perasan daun suji ataupun pewarna makanan. Untuk sausnya dibuat dari kelapa parut yang tidak terlalu tua agar terasa manis, gula aren yang dicairkan. Sebagai alat utama dalam pembuatannya adalah cetakan kue yang berbentuk bulat serta terdiri dari beberapa lubang. Proses pembuatannya sangat mudah yaitu dipanaskan dulu cetakan di atas api, baik dengan kompor ataupun perapian tradisional (akan lebih nikmat hasilnya). Sebelumnya cetakan diolesi minyak kelapa agar nantinya tidak lengket, kemudian setelah panas maka dituangkan adonan tepung cair yang telah dibuat, dan setelah itu ditutup agar panasnya merata ke permukaan kue yang sedang dibuat. Setelah beberapa menit kue itu sudah jadi dan diangkat satu persatu, kemudian ulang lagi proses penuangan adonan seperti diawal hingga adonan habis. Setelah Jaja Laklak selesai dibuat maka tinggal menyajikannya di atas piring, kertas maupun daun dengan menjejerkan Jaja Laklak lalu ditaburi kelapa parut dan disiram dengan gula cair yang telah disiapkan. Demikian sederhana cara membuat Jaja Laklak sehingga mulai dari anak-anak, orang muda hingga orang tua mampu membuatnya. Untuk pewarisan dari Jaja Laklak di Bali melalui komunitas Banjar adat, kegiatan sosial budaya, maupun melalui warisan secara turun temurun dalam suatu keluarga. Karena cara membuatnya yang sederhana, mudah dibuat baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa, serta selalu digunakan sebagai sesaji dalam upakara membuat Jaja Laklak mampu berkembang hingga sekarang, bahkan telah menjadi ikon masyarakat Bali.
Adapun fungsi dari Jaja Laklak dalam kehidupan masyarakat Bali yaitu ; 1) Fungsi religi, berkaitan erat dengan fungsinya dalam upacara keagamaan sebagai sarana upacara (sesaji) yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali. 2) Fungsi sebagai jajanan tradisional, Jajaj Laklak telah diwariskan dari generasi ke generasi, dikenal luas dalam masyarakat dan dinikmati oleh berbagai kalangan baik anak-anak hingga orang tua. Sehingga Jaja Laklak tidak saj dikenal sebagai jajanan upakara, tetapi juga dikenal sebagai jajanan konsumsi. sedang nilai yang terkandung dari Jaja Laklak itu sendiri bagi masyarakat Bali adalah nilai religius sebagai simbol Dewa Tri Murti, yaitu perwujudan Tuhan dalam tri tunggal. Nilai seni tampil dalam penyajiannya sebagai jajanan tradisional, nilai kolektif terwujud dalam pengerjaannya yang dibuat secara gotong-royong. Nilai ekonomi terbuka luas bagi peluang usaha produksi Jaja Laklak bagi masyarakat Bali, serta nilai kesehatannya dijabarkan melalui bahan-bahannya yaitu tepung beras memiliki manfaat memperlancar pencernaan, Gula aren mengandung antioksidan yang tinggi, dan kelapa parut memiliki kandungan nutrisi berupa zat besi, kaya serat yang mampu meningkatkan fungsi otak dan mencegah penyakit jantung serta masih banyak lainnya.
Makna dari Jaja Laklak bagi masyarakat Bali dapat ditinjau berdasarkan konsep Panca Yadnya yang menjadi dasar seluruh upacara yang ada dalam masyarakat Bali. Karena Jaja Laklak merupakan sarana sesaji penting dalam setiap upacara yadnya yang memiliki makna simboliknya masing-masing. Pada upacara Dewa Yadnya, digunakan sesaji Jaja Laklak yang bermakna simbolik adanya penyatuan antara matahari (Nada), bulan (Candra), dan bintang (Windu), dan jika digabungkan menjadi satu membentuk aksara Ongkara atau aksara suci dari pada Tuhan Yang Maha Tunggal dalam ajaran Hindu di Bali (Wawancara dengan Ida Bagus Eka Giriarta di Geriya Gede Taman Punggul, Hari Kamis tgl 18 Februari 2021). Pada upacara Rsi Yadnya, digunakan sesaji Jaja Laklak yang makna simboliknya mengandung arti keteguhan atau kekokohan batin seorang Rsi, Pandita, ataupun seorang Sulinggih (orang yang ahli menghantar upakara di Bali) dalam mengagungkan Tuhan, serta mengantarkan umatnya untuk mencapai kesempurnaan dan kenikmatan hidup di dunia (Lontar Dewa Tatwa lb. 28a). Pada upacara Pitra Yadnya juga wajib menggunakan Jaja Laklak sebagai sesaji yang makna simboliknya mengandung arti penyucian roh leluhur melalui penyatuan tulang sumsum dan pinggala untuk berpulang menuju alam abadi harus mengikuti jalannya sumsum dan pinggala sebagai satu-satunya jalan utama sang roh untuk menyatu dengan sang penciptanya (Lontar Yama Tatwa lb. 2a). Pada upacara Manusa Yadnya disajikan Jaja Laklak sebagai sesajian yang bermakna simbolik sebagai bukti saksi yaitu Tri Upasaksi atau 3 saksi yang meliputi saksi Dewa, saksi Manusia dan saksi Bhuta atau mahluk halus yang dengan tulus menyempurnakan kehidupan manusia yang sedang diupacarai, oleh sebab itu semuanya harus dihaturkan upah berupa Jaja Laklak (Wawancara dengan Ida Pedanda Gede Buruan Manuaba di Geriya Gede Manuaba Punggul, Hari Kamis : Tanggal 18 Februari 2021). Sebagai sesaji terakhir dari Jaja Laklak adalah pada upacara Bhuta Yadnya yang bermakna simbolik bahwa alam jagat raya ini memiliki tiga bagian yaitu alam bawah (Bhur Loka yang dihuni oleh para Bhuta atau mahluk halus), alam tengah (Bwah Loka dihuni oleh Manusia), alam atas (Swah Loka dihuni oleh para Dewata). Ketiga alam ini haruslah seimbang dan bersatu agar tercipta kehidupan yang harmonis di jagat raya ini, serta saling memendam amarah yang disimbolkan dengan Jaja Laklak Tape (Wawancara dengan Ida Pedanda Gede Buruan Manuaba di Geriya Gede Manuaba Punggul, Hari Kamis : Tanggal 18 Februari 2021).