Dokumen Jukut Gonda

Jukut Gonda

Gonda adalah salah satu tumbuhan air yang hidup di daerah-daerah memiliki suplai air secara terus-menerus. Sebagai tanaman air habitat tanaman adalah daerah berair seperti rawa, empang, pinggir sungai, maupun sawah. Berdasarkan taksonomi atau ilmu yang mempelajari penelusuran, penyimpanan contoh, pemerian, pengenalan (identifikasi), pengelompokan (klasifikasi), dan penamaan tumbuhan, tumbuhan gonda disebut sebagai Sphenoclea zeylanica Gaertn. Beberapa sumber menyebutkan Gonda berasal dari afrika dan Asia, termasuk India sehingga disebut sebagai flower of India (bunga dari India). Gonda merupakan tumbuhan semusim bercabang, tumbuh setinggi 1,5 m dengan batang berlubang. Akar berserat, berwarna putih hingga coklat. Daun berbentuk tombak, agak bulat telur hingga berbentuk bulat panjang hingga 12 x 5 cm, tidak berambut pada seluruh bagian pinggir, panjang tangkai hingga 1,5 cm. Bunga tumbuh berbentuk paku bulat kerucut berukuran hingga 12 cm. Bunganya sangat kecil, berwarna putih, kehijauan, atau kuning pink. Buah berbentuk kapsul, berdiameter 4-5 mm, membelah di bawah jika sudah tua, biji-biji buah akan luruh meninggalkan alas yang melekat pada bonggol bunga.

Tumbuhan ini merupakan tumbuhan semusim dan termasuk kedalam jenis berdaun lebar. Akarnya berbentuk tali, batangnya berongga, bunga membentuk bulir dengan mahkotanya berwarna putih. Tanaman Gonda ini berkembang biak melalui biji, setiap bulir bunga menghasilkan biji-biji. Gonda akan tumbuh dengan baik pada lahan sawah yang selalu tergenang air. Tingkat kesuburan Gonda dan kualitas tanaman Gonda juga dipengaruhi tingkat kesuburan serta kandungan tanah yang menjadi media tumbuh Gonda itu sendiri.

Pada masyarakat Bali, gonda dikonsumsi untuk sayur yang dihidangkan dengan lauk-pauk. Masyarakat Bali menyebut makanan ini dengan istilah Jukut Gonda atau dalam Bahasa Indonesia berarti sayur Gonda. Jukut gonda dapat diolah sesuai keinginan misalnya diurab, ditumis, dan sebagainya. Berkat kandungan gizinya yang relatif tinggi, saat ini tanaman gonda banyak dikembangkan sebagai komoditas sayuran pada lahan sawah. Kandungan gizi setiap 100 gr gonda segar adalah 4,47 persen lemak; 8,27 persen protein kasar; 70,30 persen karbohidrat; dan 6,69 persen abu (Sundaru dkk., 1976). Kandungan lemak nabati, protein nabati, dan karbohidrat yang tinggi menjadikan gonda sebagai bahan pangan yang membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat yang mengkonsumsinya.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa tumbuhan gonda pada awalnya tumbuh di Afrika. Apapun pendapat yang berkembang, gonda merupakan tumbuhan air yang hidup di daerah-daerah yang memiliki aliran air secara konsisten dengan suhu udara yang hangat. Dengan demikian, kemungkinan gonda bisa hidup di daerah tropis di seluruh dunia. Bahkan, beberapa sumber menyebutkan bahwa gonda juga dapat hidup di daerah subtropis.

Di Indonesia, gonda juga tergolong gulma padi dan selalu tumbuh bersama dengan tanaman padi. Pada masa-masa petani melakukan penyiangan padi, gulma (pohon-pohon liar yang mengganggu pertumbuhan padi) termasuk gonda menjadi salah satu tumbuhan yang harus disiangi karena dianggap dapat menggangu pertumbuhan dan perkembangan padi.

      Menilik sifatnya sebagai tanaman air yang umumnya tidak berbahaya maka muncul ide untuk mencoba memanfaatkan gonda seperti tanaman air lainnya seperti kangkung ataupun genjer. Maka, gonda yang disiangi dari tanaman padi tidak dibuang begitu saja tetapi dicoba direbus dan dimanfaatkan sebagai sayur. Meskipun rasanya sedikit pahit, ternyata rasa gonda cukup nikmat. Apalagi jika ditambahkan dengan bumbu, maka rasa jukut gonda semakin nikmat. Di Jawa dan Jawa Barat, gonda digunakan sebagai lauk-pauk atau sayur teman makan nasi. Proses pemasakan dapat dilakukan dengan cara dilalap, direbus,  diurap, ataupun ditumis.

      Di Bali, tumbuhan gonda telah dikenal sejalan dengan berkembangnya sistem pertanian sawah. Hal ini dilatarbelakangi pola pertumbuhan gonda hanya dapat tumbuh pada daerah–daerah yang memiliki cadangan air berlimpah. Daerah-daerah yang memiliki cadangan air berlimpah biasanya berkembang sistem pertanian  padi sawah. Penanaman padi di sawah diikuti dengan berbagai hambatan dalam menanam padi yakni tanaman penggangu seperti berbagai jenis rumput, kapu-kapu (apu-apu), biah-biah (genjer), emping-emping (Azolla Mycrophilla), maupun gonda. Meskipun sebagai pengganggu padi, sisa-sisa siangan tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai pupuk kompos untuk menyuburkan pertumbuhan tanaman padi maupun lauk pauk atau sayuran.

Hampir semua wilayah yang mengembangkan sistem pertanian di Bali mengenal tumbuhan gonda sebagai gulma padi. Tetapi masing-masing daerah di Bali memiliki pertumbuhan gonda yang relatif berbeda dilihat dari bentuk daun,  warna batang, dan rasa gonda. Ada yang berbatang kekuningan, berdaun kecil,  rasa lebih pahit, maupun lebih keras atau alot. Berbeda dengan gonda di Kabupaten Tabanan yang umumnya berbatang hijau, daun lebih lebar, batang gemuk, tidak pahit, dan empuk setelah direbus. Karakter tumbuhan gonda yang berbatang hijau, daun lebih lebar, batang gemuk, tidak pahit, dan empuk inilah yang dianggap cocok dikonsumsi sebagai jukut gonda. Sehingga Kabupaten Tabanan yang memiliki karakter dan kualitas gonda terbaik dikenal sebagai ikon gonda di Bali.

 Sejarah atau awal mula pemanfaatan tumbuhan gonda sebagai jukut gonda di Tabanan Bali tidak dapat diketahui secara pasti. Meskipun tidak terdapat catatan pasti terkait sejarah keberadaannya, kemungkinan besar jukut gonda telah dikenal sejak masa prasejarah ketika manusia Bali telah  mengembangkan sistem pertanian padi. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa sistem pertanian di Indonesia, termasuk di Bali diperkirakan disebarluaskan setelah manusia mengenal pola bercocok tanam. Sistem bercocok tanam dikenal setelah manusia mengalami proses atau tingkatan-tingkatan perkembangan masyarakat.

Jika keberadaan tumbuhan gonda sejalan dengan keberadaan sistem pertanian sawah, maka kemungkinan besar gonda sudah digunakan sebagai jukut gonda sejak ribuan tahun lampau. Setidak-tidaknya jukut gonda di Bali sudah dikenal sejak zaman Bali Kuna. Terbukti dengan adanya istilah-istilah yang berhubungan dengan sistem petanian seperti kasuwakan (wilayah subak), tembuku (pembagian air), pangarung (pembuat terowongan air), dan lain-lain.

Daerah-daerah yang dikenal sebagai penghasil gonda yang berkualitas baik yaitu Gonda Timpag dan Gonda Sudimara. Tumbuhan gonda merupakan tanaman air yang tumbuh liar di daerah yang banyak air mengalir seperti di pinggir sungai, rawa, maupun di sawah. Seperti tumbuhan air pada umumnya, tumbuhan gonda meskipun memiliki sedikit rasa pahit, dapat diolah menjadi berbagai jenis jukut (sayur) berdasarkan kreativitas pengolahnya. Gonda dapat diolah menjadi plecing gonda atau gonda bejek (rebusan gonda yang dicampur dengan bumbu tertentu), urab gonda (urap gonda), tambusan gonda (pepes gonda), dan sebagainya.



Gunakan navigator zoom in atau zoom out di pojok kiri bawah maps untuk memperbesar atau memperkecil maps.