Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi
Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi merupakan upacara yang dilaksanakan di Desa Adat Selat setiap 10 tahun sekali. Rangkaian upacaranya pun memiliki kisaran waktu yang lama sampai 1 bulan 7 hari. Desa Adat Selat tergolong ke dalam salah satu Desa Tua/Kuno di Kabupaten Karangasem yang dibuktikan dengan adanya Piagem /Prasasti Selat yang berangka tahun 1103 Caka (1181 Masehi) atau sekitar abad XII yang dikeluarkan oleh Maharaja Sri Haji Jayapangus yang disimpan di Pura Gaduh Sakti Banjar Bingin. Prasasti ini diyakini dan dikeramatkan oleh masyarakat adat setempat sebagai sthana atau linggih Ida Bhatara Ngertha Gumi. Selain Prasasti Selat A juga ditemukan Prasasti Selat B sebagai sthana atau linggih Ida Ratu Putra Piyagem yang disimpan di Pura Gunung Agung, Banjar Pasek. Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi diyakini sebagai simbol dewa penguasa kesejahteraan dan kemakmuran di Desa Adat Selat yang memberikan kesejahteraan dan limpahan hasil bumi yang melimpah, sehingga Desa Adat Selat disebut sebagai lumbungnya Besakih. Hal inilah yang mendasari pelaksanaan upacara ini dimana dengan keyakinan yang kuat masyarakat setempat dan menurut dresta yang sudah turun temurun dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu, setiap 10 tahun sekali Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi harus tedun (diturunkan) untuk mendapat persembahan / piodalan agung selama 1 bulan 7 hari. Atas dasar tersebut pacara ini oleh masyarakat setempat lazim disebut Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi. Karya memiliki padanan kata yang sama dengan upacara, Pemijilan diartikan sebagai turun, sedangkan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi adalah simbol Prasasti Selat A yang dikeramatkan.
PROSES PENYELENGGARAAN UPACARA:
Upacara ini adalah bentuk penghormatan kepada Ida Bhatara Ngertha Gumi yang menjadi sesuhunan (sungsungan) bagi krama/warga masyarakat di Desa Adat Selat sebagai simbol dewa penguasa kesejahteraan dan kemakmuran. Berikut merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara ini :
- Melasti Agung
Melasti bertujuan untuk menghanyutkan malaning bhumi (kekotoran bhuwana Agung
dan Bhuana Alit) dan mendapatkan sarining bhuwana (Tirta Amerta) yang dilakukan dengan mengusung pratima menuju laut atau sumber mata air untuk mendapatkan kesucian skala dan niskala.
- Karya Tabuh Gentuh
Tabuh Gentuh tergolong Upacara Bhuta Yadnya yakni upacara persembahan kepada para Bhuta Kala berupa banten caru yang dilaksanakan di Catus Pata (perempatan agung).
- Nyepi Sipeng / Nyepi Adat
Nyepi yang dilaksanakan adalah dalam rangka penyucian dan pengendalian diri krama Desa Adat untuk menyongsong pelaksanaan Upacara besar ini. Sama halnya dengan Hari Nyepi pada umumnya yakni melaksanakan 4 pantangan.
- Nyanjan / Nuwasin Karya
Upacara ini dilaksanakan di Pesimpenan Pura Gaduh Sakti yang bertujuan untuk menyatakan kesanggupan bahwa Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi akan dilaksanakan sebagaimana hari baik yang sudah ditentukan. Menjadi awal pelaksanaan upacara bermakna pemberitahuan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi bahwa rangkaian upacara sudah dimulai.
- Mepepada
Sehari sebelum Puncak Upacara dilaksanakan mepepada yakni penyucian terhadap semua wewalungan (binatang) yang akan dikorbankan dalam upacara ini dengan tujuan memberi penyupatan kepada roh para binatang tersebut agar nantinya menjelma menjadi makhluk yang lebih mulia.
Pada hari ini juga dilaksanakan nuur (menjemput) Ida Ratu Putra Piagem menuju Pura Gaduh Sakti.
- Puncak Karya Ngerta Gumi
Pada Puncak Karya dilakukan persiapan berupa menyiapkan lantaran (alas) sepanjang ± 650 M dari Pura Gaduh Sakti menuju Pura Bale Agung. Lantaran tersebut dibuat dari tikar dilapisi kain putih dan diatasnya ditaburi nasi yang juga dilengkapi dengan karangan (lauk) dan pancapala (buah-buahan) serta canangsari. Inti dari perayaan ini adalah tedunnya Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi dan Ida Ratu Putra Piagem dari Pura Gaduh Sakti menuju Pura Bale Agung dan bersthana selama 35 hari. Dalam perjalanan Beliau menuju Pura Bale Agung tidak dibolehkan untuk melewati gerbang batu sehingga harus dibuatkan jalan melompati tembok penyengker pura serta bagi yang mundut (menyongsong) Pratime wajib untuk melewati/berjalan diatas lantaran yang berisi nasi.
- Nyepi Umum
Sehari setelah pelaksanaan Puncak Karya dilaksanakan Hari Raya Nyepi.
- Ida Bhatara Munggah ke Pura Puseh
Setelah 35 hari bersthana di Pura Bale Agung kemudian Pratime diusung menuju Pura Puseh dan bersthana kembali selama 7 hari. Sama halnya sebelum menuju Pura Puseh disiapkan lantaran yang diatasnya ditaburi beras berwarna kuning, karangan (lauk), pancapala (buah-buahan) dan canangsari.
- Nyineb
Setelah 7 hari bersthana di Pura Puseh maka Pratime akan kembali diusung ke tempat penyimpenan Beliau. Pada saat kembali dipersiapkan lantara dengan beras kuning, palawija (umbi-umbian) dan canangsari. Umbi-umbian ini dimaksudkan bahwa masyarakat akan kembali mempersembahkan umbi-umbian agar Beliau kembali memberikan limpahan berkat dalam bentuk bibit yang bisa menghasilkan hasil yang melimpah.
Lantaran yang diinjak / dilalui oleh Pratime Ida selanjutnya oleh masyarakat ditunas (diambil bahkan ada yang langsung dimakan) dengan keyakinan bahwa apa yang sduah dilalui Beliau akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan serta keselamatan. Tidak lupa pula mereka membawa dan menaburkannya di tegalan, sawah, pekarangan agar Beliau selalu menyertai dengan keselamatan, kekuatan dan kemakmuran dan hasil melimpah dari sektor pertanian.
Selama 35 hari bersthana di Pura Bale Agung, setiap hari dilaksanakan upacara nganyarin (sembahyang) yang dilakukan tidak saja oleh Krama Desa Adat Selat melainkan warga masyarakat dari Desa-Desa Penyanding maupun desa yang memiliki keterkaitan sejarah. Selain banten mereka juga mempersembahkan salaran yang dibuat dari berbagai macam palawija (biji-bijian), palabungkah (umbi-umbian) dan palagantung (buah-buahan) sebagai persembahan rasa syukur dari hasil pertanian dan perkebunan yang Beliau limpahkan.
MAKNA DAN FUNGSI:
Makna yang ingin disampaikan dalam Upacara ini antara lain :
- Makna Teologis, yakni masyarakat setempat selalu menempatkan kekuatan Tuhan sebagai sebuah muara konsekuensi/tanggungjawab sehingga di implementasikan dalam pelaksanaan Upacara agama salah satunya adalah Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi ini.
- Makna Religius, yakni bagi masyarakat setempat dan Umat Hindu pada umumnya yang percaya dengan kekuatan Tuhan, akan mempercayai bahwa salah satu cara untuk mendekatkan diri dan bersyukur atas anugerah Tuhan adalah dengan melakukan yadnya (upacara). Sehingga melalui upacara ini memiliki keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan dalam diri untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
- Makna Estetis, yakni seni tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan yadnya pada umumnya di Bali. Keindahan dari penyelenggaraan upacara dari segi sarana prasarana upakara, pakaian, kesenian serta prosesi upacara diyakini sebagai implementasi diri yang senang dan bahagia untuk menuju / mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
-
- Makna Sosiologis. Upacara ini bagi masyarakat setempat merupakan ekspresi dan refleksi keinginan masyarakat akan sebuah kehidupan dalam kebersamaan dan solidaritas.
- Makna Spiritual. Bagi umat Hindu pada umumnya melaksanakan sebuah upacara agama selalu memiliki makna tersendiri yang mengarah kepada kebaikan. Demikian juga bagi masyarakat Desa Adat Selat melalui pelaksanaan karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi ini mengharapkan akan selalu dilimpahi kesejahteraan, kemakmuran dan hasil bumi yang melimpah.
- Makna Pelestarian Tradisi. Tentunya bagi masyarakat setempat dengan tetap melaksanakan upacara ini memiliki makna mereka tetap melestarikan tradisi yang sudah diwariskan secara turun temurun dari ratusan tahun silam.
Sedangkan fungsi dari Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi adalah :
- Fungsi Religiusitas, bagi masyarakat setempat Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi ini memiliki fungsi sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Bhatara Sakti Ngertha Gumi atas segala anugerah yang beliau berikan sehingga masyarakat atau krama di Desa Adat Selat dapat hidup dengan berkecukupan serta terjauh dari segala mara bahaya.
- Fungsi Teologis. Menurut kepercayaan masyarakat Desa Adat Selat bahwa Bhatara Ngertha Gumi adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pemberi anugrah (kemakmuran) yang disimbolkan pada beras kuning dan nasi putih yang terdapat diatas lantaran sebagai sarana pemujaan.
- Fungsi Solidaritas, dalam upacara fungsi ini terlihat dalam semangat gotong royong masyarakat dari mempersiapkan pelaksanaan upacara sampai akhir.