Kerajinan Kain Tenun Rangrang
Tenun Rangrang merupakan salah satu kain khas yang berasal dari daerah Nusa Penida. Menurut sejarahnya, kain Tenun Rangrang pada awalnya digunakan sebagai sarana dalam upacara keagamaan, namun seiring perkembangan jaman, kini Tenun Rangrang banyak dimanfaatkan oleh para pengrajin untuk membuat berbagai macam busana serta produk kerajinan yang bernilai jual tinggi.
Nama “Rangrang” berasal dari sebutan “nyrangnyang” yang berarti kain yang berbentuk bolong-bolong. Kata “nyrangnyang” bermakna tembus pandang dengan nilai filosofinya ketika dipakai sebagai bahan sarana banten dalam bentuk “gebogan”, makna tembus pandang merupakan dasar yadnya yang tulus ikhlas karena setiap perbuatan yang dilakukan secara tulus ikhlas maka hasilnya diyakini akan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain menampilkan keindahan warna dan motif yang menawan, Tenun Rangrang juga menyuguhkan filosofi mendalam mengenai hidup dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap sang maha pencipta beserta isinya.
Kerajinan kain Tenun Rangrang pada awalnya hanya berbentuk motif yang permukaannya bolong-bolong dengan motif wajik atau siku-siku (segi tiga) yang dominan hanya memiliki satu warna saja. Benang yang digunakan adalah benang rayon tetapi dalam perkembangan lebih lanjut kain Tenun Rangrang dibuat dalam berbagai warna, motif dan bahan benangnya berupa metris dengan ciri khas tetap berbentuk “bolong-bolong” atau “nyrangnyang”. Rangrang merupakan kain bebali berwarna-warni terang dengan inspirasi motif berasal dari keadaan geografis wilayah Nusa Penida yaitu daerah pegunungan dan perbukitan.
Secara umum kain tenun rangrang dibuat dengan latar belakang berwarna merah berwarna merah yang diperoleh dari dua jenis pewarna yaitu akar mengkudu dan kayu secang. Warna kuning berasal dari bahan kulit delima yang dikeringkan. Pada bagian tengah kain ditambahkan pula berbagai motif cantik berupa saksak Bungan tunjung, akar rumput, dan pohon cemara. Sementara pada bagian pinggirnya diberi hiasan berupa motif bunga, daun bakung, kupu-kupu serta katak. Ciri khas yang paling mencolok pada kain rangrang yaitu garis berwarna putih yang dikenal sebagai pangoh taji atau semacam pisau yang biasa digunakan oleh petarung ayam pada acara sabung ayam.
Demikianlah sekilas sejarah Kain Rangrang yang sekarang sudah dikembangkan sebagai kain bahan fashion dimana cirik khasnya tetap dipertahankan oleh Pengrajin Tenun Tradisinal “Cepuk Rangrang Nusa Karang”. Semoga dengan bantuan Hak Paten bukan benda yang akan diberikan oleh Pemerintah Dinas Kebudayaan dapat membantu dan menjaga Pelestarian Kain Tenun Tradisional RANGRANG yang merupakan Karya Budaya Warisan Leluhur Kita.