Majaran-jaranan
Majaran-jaranan merupakan salah satu permainan tradisional yang ada di Desa Banyuning. Permainan ini biasanya dimainkan pada saat rangkaian pujawali di Pura Gede Pemayun dan diikuti dengan permainan Makeringan Endut. Majaran-jaranan asal mulanya yaitu “Jaran”. Jaran atau kuda merupakan salah satu binatang sebagai simbol “Indria”. Jadi permainan Majaran-jaranan merupakan simbol pengendalian Indria yang harus dimulai dan dibiasakan dari diri sendiri dan sejak dini dalam bentuk permainan.
Permainan ini memiliki sejarah tersendiri, diceritakan pada jaman Raja Bedahulu telah kehilangan seekor kuda yang bernama Once Srawana, sehingga sang raja bersabda kepada rakyatnya untuk mencari kudanya yang hilang tersebut, agar ditemukan baik dalam keadaan hidup maupun mati, dan barang siapa yang menemukannya akan diberikan hadiah. Rakyat segera melaksanakan titah raja dan segera berangkat secara berkelompok, ada yang ke arah timur dan ke barat. Kelompok yang berangkat ke arah timur berhasil menemukan kuda tersebut. Pada saat itu juga untuk mengenang kejadian ini dibuatkanlah permainan Majaran-jaranan di Desa Banyuning.
Permainan Majaran-jaranan ini sebenarnya juga terdapat di berbagai daerah salah satunya di desa Beratan Samaji, namun bentuk dan teknis permainannya berbeda. Permaianan ini sudah sering ditampilkan pada acara-acara besar di Bali seperti Pesta Kesenian Bali, Buleleng Festival sebagai ajang hiburan dan pendidikan generasi muda agar tidak lupa dengan permainan dahulu. Permainan Majaran-jaranan ini diikuti dengan Makering Endut atau bermandi lumpur sebagai rangkaian Pujawali di Pura Gede Pemayun, dimana permainan ini dilakukan di jaba pura yang diikuti oleh anak-anak maupun remaja Desa Banyuning.
Teknis dari permainan ini yaitu dibuat 2 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Masing-masing kelompok bersiap-siap membuat formasi permainan, dan terdapat satu pemain yang diangkat dari masing-masing kelompok tersebut, disanalah mereka bergulat mengadu kekuatannya, bagi salah satu kelompok yang jatuh dianggap kalah dan yang masih tetap bertahan dinyatakan menang. Iringan lagu permaianan Majaran-jaranan ini disertai dengan iringan lagu yang dinyanyikan oleh para pemain selama permainan berlangsung, lirik lagu berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kelian adat Desa Banyuning Ketut Setiawan, adalah sebagai berikut:
Jalan-jalan jani majaran-jaranan
Yening tusing numbrag bakat pecut kai
Lamon legin tusing maan upah
Yening jemet kasayang kai
Penunggangne menek jaranne manungging
Melaib jaranne pada ngalih musuh
Yen suba pada mengalahang musuh
Sinah melah ne kaucap
Terjemahan:
Marilah sekarang bermain jaran-jaranan
Jika tidak bergegas akan aku pecut
Kalau malas tak akan aku beri upah
Kalau rajin akan kusayangi
Penunggangnya naik kudanyapun nungging
Kuda berlari mencari musuh
Jika sudah mengalahkan musuh
Hal baik yang akan diucapkan
Konsenkuensi dari permainan ini tergantung dari kesepakatan antara dua kelompok pada saat sebelum permainan. Namun biasanya dalam permainan ini konsekuensi pemain yang kalah harus mengendong pemain yang menang di sekeliling areal jaba sisi Pura Gede Pemayun. Permaian ini bukan hanya permainan tradisional biasa, namun juga sebagai wujud ngayah generasi muda di Pura Gede Pemayun.