Mapajar Griya Gede Delod Pasar Desa Intaran
Secara epistemologi dalam konteks mapājar dan keberadaan Ida Ratu Ayu Mas Sapuh Jagat menjadi sesuatu yang penting sebab pada prosesi inilah sesuhunan barong bersama dengan dua sasuhunan lainnya berupa topeng rangda diberikan tempat dan waktu untuk nurunang baos (meminta petunjuk secara niskala), hal ini menjadi sedikit berbeda terutama di dalam mengartikan mapājar di desa-desa lainnya. Apabila ditinjau dari persebaran penggunaan Istilah mapājar pada umumnya populer di wilayah Kota Denpasar juga di Kabupaten Badung terutama di Badung bagian selatan, makna mapājar dipadankan dengan napak pertiwi yaitu menarikan sesuhunan sakral barong dan rangda di halaman pura atau di persimpangan jalan, pada beberapa kasus juga terminologi mapājar dipadankan dengan sebuah pagelaran calonarang.
Bermakna pembersihan secara rohani atau niskala di dalam jagat kecil yang berada di dalam tubuh manusia maupun yang berada di lingkungan manusia hidup. Di dalam konsep teologi Hindu Bali bahwa dunia terbentuk dari lapisan-lapisan alam sehingga manusia tidak dapat mengabaikan lapisan alam lainnya untuk mencapai keharmonisan hidup. Sasuhunan berupa Barong dan Rangda di Griya Gede Delod Pasar Intaran secara fungsi magisnya adalah sebagai penjaga niskala yang membentengi kehidupan Masyarakat penyungsungnya dari energi negatif.
Mapājar di Griya Gede Delod Pasar terkonstruksi atas ritual, topeng sakral barong-rangda, seperangkat topeng sesandaran, dan masyarakat penyonkongnya. Ketika prosesi mapājar dilakukan baik di hari Pagerwesi maupun di hari Penapahan Galungan dan Galungan maka dapat dilihat masyarakat lingkungan Banjar Pekandelan, Desa Adat Intaran yang antusias mengikuti rangkaian ritual ini, mereka mendapatkan tugas masing-masing dari menyiapkan sarana upakara, mempersiapkan kalangan mapājar di jaba Merajan Gede Griya Delod Pasar, dan lainnya. Hal ini tentu sebagai bentuk rasa bakti masyarakat terhadap Sang Pencipta melalui lelaku yadnya yang dapat dilacak melalui sejarah, bentuk fungsi dan juga makna di dalamnya.
Kata mapājar di Desa Adat Intaran diartikan sebagai sabda, inti dari mapājar di Griya Gede Delod Pasar, Intaran bukanlah menarikan sasuhunan barong dan rangda, bukan juga napak pertiwi, melainkan ritual nedunang baos atau mebaosan. Mapājar sebagai bentuk turunnya sabda atau terjadinya dialog spiritual dapat ditemukan dalam bahasa Jawa Kuna, mapājar berasal dari kata mājar, entri katanya adalah ājar, mājar, ājar-ajar, pājar, pājar-ajar yang berarti menceritakan, memberitahukan, menerangkan, mengumumkan; mengajar (Zoetmulder, 1994). Dengan demikian, maka tidak keliru ketika puncak ritual mapājar di Griya Gede Delod Pasar, Intaran semua masyarakat berkumpul mengelilingi sasuhunan Ida Ratu Ayu Mas Sapuh Jagat, Dewa Rangda Ida Ratu Gede Manik Ireng, dan Dewa Rarung, para pepatih yang dalam keadaan trance, kemudian para pemangku yang menjadi juru siar hasil pembicaraan spiritual tersebut kepada masyakarat.
Kronologi Sejarah
- Pedanda Dangin Rurung dari Griya Kelodan adalah generasi ketiga dari Pedanda Mas alias Mpu Kidul yang merupakan putra dari Dhang Hyang Nirartha, Pedanda Dangin Rurung lah yang disebutkan pada inskripsi pamancangah milik Griya Gede Delod Pasar sebagai tokoh yang mengadakan sasuhunan Ida Ratu Ayu Mas Sapuh Jagat, sekiranya pada awal abad ke-18. Cuplikan inskripsi pamancangah “Pasaŋ tabeya ta pukulun·, kamnāmujarakna kawitan I nghulun·, saŋ huwus mantuk iŋ śūnyata, saŋ makatunwan riŋ sawaḥ gḍuḥ, tan katamama °upadrawa de hyaŋ mami, mañaritākna kula wangśaja nira, pinaka tuha-tuhasang agriya riŋ lod pasar hintaran· bhūmi baduŋ //0// waluyakna ikaŋ katha muwaḥ, sang apuṣpata paḍaṇḍa dangin ruruŋ riŋ griya klodan·, saŋ pinicāyan hangwangun baroŋ, ngambill putran paḍaṇḍa tgal riŋ jro haguŋ,”
- Dapat dikatakan bahwa mapājar di Griya Gede Delod Pasar, Desa Adat Intaran adalah cikal bakal adanya mapājar di daerah lainnya, hal ini dapat dilacak melalui kumpulan topeng sesandaran dan folklore masyarakat penyokongnya. Topeng sesandaran yang otentik adalah yang dibuat oleh Ida Pedanda Made Sidemen pada dekade 1910an, setelah Ida Pedanda Made Delod Pasar pindah ke lingkungan Banjar Taman, seperangkat topeng dihibahkan untuk dirawat di Griya Gede Delod Pasar. Selain di Banjar Taman, topeng sesandaran yang dibuat oleh Ida Pedanda Made Sidemen pun kemudian menyebar ke wilayah selatan Badung seperti Desa Kedonganan, Desa Kelan, Desa Tanjung, Desa Benoa, Desa Kuta, Desa Jimbaran, setidaknya satu tokoh yang mudah dikenali sebagai ciri khas dari topeng sesandaran yang awalnya tercipta di Griya Gede Delod Pasar, Intaran adalah tokoh yang dinamai I Gore (jauk lingsir yang menggambarkan seorang raja tua). Dengan demikian maka model mapājar dikenal juga di daerah Badung bagian Selatan yang dimulai dengan hubungan baik antara griya dengan masyarakat setempat.
- topeng sesandaran yang ada di Griya Delod Pasar, Intaran yang diusung oleh masyarakat Banjar Pekandelan khusunya dan masyarakat Desa Adat Intaran pada umumnya setidaknya tercatat sejak 1930an melalui tulisan Walter Spies dan Beryl de Soete berjudul Dance and Drama in Bali. Pada tulisannya yang mengulas Baris Kekupu telah disinggung bahwa pola menari Baris Kekupu di Banjar Lebah serupa dengan tarian Sandaran di Sanur.
- Sebuah cuplikan tari sesandaran saat ritual mapājar menampilkan dua sandaran telek dan jauk sedang menari bersama Ida Ratu Ayu Mas Sapuh Jagat terekam pada tahun 1926, ini menjadi cuplikan dokumentasi visual tertua ritual mapājar Griya Gede Delod Pasar yang hari ini pernah ditemukan, film dokumenter ini berjudul Mahasoetji besutan sutradara Isidor Arras Ochse yang ditugaskan oleh Pemerintahan Belanda membuat film di Hindia-Belanda.
- Pada tahun 1960-an selain ritual mapājar, pernah sekali diadakan sebuah pagelaran calonarang di jaba merajan Griya Gede Delod Pasar, acara tersebut dapat dikatanan megah dilengkapi dengan tragtag tingga (tangga dari bambu yang dihias, pada bagian puncaknya dibuat sebuah bale-bale yaitu bangunan kecil berukuran kurang lebih 2 meter) sebagai tempat keluarnya penari rangda. Ketika pagelaran berlangsung saat klimaks pertemuan barong dan rangda dikatakan tidak berakhir dengan baik sebab ada kejadian-kejadian yang janggal, seolah-olah para sesuhunan tidak berkenan untuk dibuatkan acara seperti pagelaran calonarang dengan drama tarinya, sebab tidak hanya para pepatih yang mengalami kesurupan melainkan hingga para penabuh gamelan bahkan setengah dari masyarakat yeng menonton mengalami hal serupa yang mengakibatkan pagelaran Calonarang menjadi kacau padahal pertunjukannya belum selesai, sejak kejadian tersebut maka anggota keluarga di Griya Gede Delod Pasar, Intaran merasa tidak cocok dengan diadakannya pagelaran Calonarang.
Mapājar sebenarnya tidak bertumpu pada pagelaran pertunjukan, melainkan berfokus kepada rangkaian prosesi ritual yang kompleks dan dilaksanakan secara turun-temurun kurang lebih semenjak awal abad ke-19. Sebagaimana yang telah disampaikan bahwa ritual ini dilakukan dua kali selama satu putaran siklus pawukon atau dua kali dalam kurun waktu enam bulan jika merujuk kepada perhitungan bulan pada kalender Gregorian, dengan demikian, pada setiap satu tahun ritual mapājar ini dilakukan empat kali. Ritual pertama dilakukan bertepatan dengan hari suci Pagerwesi kemudian yang kedua dilakukan pada hari suci Galungan.
Yang membedakan ritual mapājar di hari Galungan dengan Pagerwesi adalah prosesinya. Ritual mapājar pada hari pagerwesi cenderung ringkas sedangkan ritual pada hari raya Galungan disebut ritual lengkap yang dimulai dari Penampahan Galungan. Ritual utamanya dimulai dari Penampahan Galungan pukul 22:00Wita dengan prosesi masucian, prosesi ini di Bali Daratan umumnya dipersepsikan sebagai prosesi melis atau melasti yaitu mensucikan sasuhunan berupa arca pratima, barong, rangda, dll ke sumber mata air di desa-desa, akan tetapi pada prosesi ritual mapājar di Griya Gede Delod Pasar, Intaran, masucian yang dimaksud adalah ritual di areal setra atau kuburan. Hal ini arahnya lebih kepada ritual pangerehan yang lekat dengan ajaran spiritual Tantrayana.
Prosesi Mapajar Galungan tepat pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan oleh sebabnya sering disebut Buda Kliwon Dungulan, Galungan sendiri adalah puncak dari rangkaian 7 hari perayaan yang dimulai dari Penyajang Galungan, Penampahan Galungan, Galungan, Umanis Galungan, Pahing Galungan, Pemaridan Guru Galungan dan Ulihan Galungan.
Prosesi Mapajar Pagerwesi empat hari setelah hari suci Saraswati umat Hindu di bali melaksanakan upacara Pagerwesi seperangkat topeng sesandaran dihaturkan upakara sodan, pemangku/pepatih pengiring terpilih untuk merawat keberadaan sasuhunan dan selanjutnya menghaturkan upkara tersebut dihadapan sasuhunan.
Upaya Pelestarian Karya Budaya
Mapājar adalah sebuah sistem komunikasi spiritual antara manusia dengan alam, sejalan dengan maknanya yaitu nedunang baos, antara masyarakat Desa Adat Intaran dengan Griya Gede Delod Pasar dan Ida Ratu Ayu Mas Sapuh Jagat bersama Dewa Rangda Ida Ratu Gede Manik Ireng melalui para sadeg atau pepatih.
Upaya pelestarian yang nyata dilakukan dengan pelaksanaan pada dua prosesi yaitu Mapajar Pagerwesi dan Mapajar Galungan menjelang ritual diadakan juga mengupayakan pembinaan dan pengembangan melalui keterlibatan masyarakat Desa Adat Intaran pada umumnya dan secara khususnya masyarakat Banjar Pekandelan dengan cara merawat keberadaan situs yaitu tempat suci terkait ritual, merawat topeng sasuhunan barong, rangda, sesandaran. Menginisiasi para penyandang topeng sakral sesuhunan, melaksanakan latihan-latihan terkait dengan gamelan pengiring ritual serta tari-tarian yang melingkupi ritual ini.