Dokumen Pangiwa-Panengen pada Aguron-Guron Tantra Sastra

Pangiwa-Panengen pada Aguron-Guron Tantra Sastra

1. Pengertian

 Istilah "Pangiwa dan Panengen", berasal dari bahasa Jawa Kuna yaitu dari kata kata dasar "Kiwa"  yang berarti kiri dan "Tengen" yang berarti kanan.  Dalam fenomena budaya bali Kiwa Tngenmemiliki dimensi yang lebih dalam. Kiwa Tengen adalah manifestasi dari Pradana dan Purusa. Nilai-nilai mistik terkait dengan Pengiwa dan Panengen dalam konteks Kadhyatmikan adalah dua kutub bersifat Paradoks, tetapi sesungguhnya beroposisi biner. Pangiwa sering diidektikkan denan dengan ilmu hitam (black magic). Masyarakat umum sering memberi stigma kepada kelompok atau personal yang menekuni dan melakoni Pangiwa dikata menjalankan Aji Wegig atau Aji Ugig/Dukun usil dan kecendrungan berkarakter serta berlaku negatif, jelek, jahat. Panengen adalah penamaan bagi penganut ilmu putih yang menjalankan Aji Usadha (Balian Usadha/Dukun Pengobatan) dan potensial untu berbuat kebaikan atau berbuat Positif. Kearifan Lokal "Pangiwa dan Panengen sekarang dilestarikan oleh sebuah Paguruan yang bernama Aguron-Guron Tantra Sastra, Desa uma Anyar, Kecamatan Banjarangkan, Kecamatan Klungkung.

2. Makna

Fenomena Pangiwa dan Panengen ini secara bijak dapat dimaknai sebagai sebuah proses pendakian spiritual jika memang dipahami esensinya, dihayati, dilakoni dengan pageh dan puguh serta tahan uji didasari dengan Swadharma, Sadhana, dan Sesana. Kedua kutub spiritual atau Kadhyatmikan ini baik Pangiwa maupin Panengen mengembangkan diri dengan sama-sama melakukan, pembangkitan terhadap kekuatan bathin. Proses olah fisik dan bathin untuk mengembangkan potensi badan energi dalam diri juga hampir sama, cuman pada esensi dan prinsipnya dibedakan dalam arah Perputaran Aksara (huruf Suci) dalam tubuh yang berlawanan. Sejatinya kedua kutub baik Pangiwa maupun Panengen mempunyai prinsip untuk kerahayuan jagat dan sarwaprani hitangkarah.