Serombotan
Menurut kitab perpustakaan yang bernama “Usana-Jawa”. Menyatakan , bahwa yang menjadi raja di Bali masa itu ialah Cri Gajah Mahana, yang disebut juga Cri Tapolung. Baginda itu adalah putra dari baginda raja Cri Masula-Musuli yang tersebut pada pasal 8 di atas, akan tetapi dari perkawinan baginda dengan seorang wanita dari kalangan rendah. Baginda raja Cri Gajah Wahana itu amat masyur akan kesaktiannya, demikian diterangkan oleh kitab itu selanjutnya. Baginda mempunyai dua patih terkemuka, masing-masing bernama Pasung Gerigis dan Kebo Iwa. Pasung Gerigis bertempat tinggal di desa Tengkulak, dan Kebo Iwa bertempat tinggal di desa Blahbatuh. Kemasyuran baginda Cri Gajah Wahana oleh kesaktiannya itu, ialah karena baginda dipandang mempunyai kesanggupan berkunjung ke Surga setiap waktu. Perjalanan bagingda apabila hendak pergi ke surga itu, dilakukan oleh baginda mula-mula dari Penelokan, yang terletak dari tepi Danau Batur. Di situ baginda beryoga memusatkan ciptanya di atas sebuah batu besar, dengan dikawal oleh kedua orang patihnya itu. Sesudah selesai mengucapkan mantera-mantera batang leher baginda lalu dipenggal oleh Pasung Gerigis, menurut syarat-syarat yang sudah dibisikan oleh rajanya itu terlebih dahulu. Kepala bagingda yang sudah putus dari tubuhnya itu segera melayang ke udara, bersama-sama dengan kepulan asap Gunung Batur yang berapi itu. Sesudah puas tinggal di surga, kepala baginda datang lagi dari udara, seraya melekat pada tubuh baginda yang tinggal di atas batu besar itu, bagaikan patung laiknya. Baginda hidup kembali sebagai sediakala, perbuatan itu sudah sering kali dilakukan oleh baginda. Pada suatu hari baginda hendak pergi lagi ke surga, dengan menempuh jalan serupa sesudah kepala baginda membubung ke angkasa, lama ditunggu-tunggu oleh kedua orang patih itu tiada juga kunjung datang, sehingga matahari hampir terbenam. Hal itu menyebabkan kedua orang patih itu menjadi gelisah, sehingga menimbulkan kecemasan hatinya, mungkin rajanya akan terus mangkat apabila kejadian itu dibiarkan olehnya. Kebetulan dekat di situ lalu seorang petani sedang memikul seekor babi. Babi itu lalu dibeli oleh Pasung Gerigis, kepalanya lantas dipenggal seraya dilekatkan pada tubuh baginda raja itu. Dengan berkepala babi baginda hidup kembali, sedang kepala baginda yang sejati dan yang datang kemudian dari angkasa terpaksa balik lagi ke surga, karena tidak dapat lagi untuk melekat. Maka semenjak itulah baginda terus berkepala babi. Sehingga perubahan sifat itu mengakibatkan perubahan tabiat baginda katanya. Pun semenjak itu pula baginda mendapat sebutan ‘Cri Tapolung” artinya seorang raja yang sudah jatuh tapanya. Perubahan wajah baginda itu, menyebabkan baginda malu dilihat oleh rakyatnya. Oleh karena itu baginda lalu mendirikan sebuah panggung yang agak tinggi untuk tempat bersemayam. Baginda siap selalu memegang panah di atas panggung itu, bersedia membunuh setiap orang yang berani menatap wajah baginda yang ajaib itu. Perubahan keadaan itu menyebabkan baginda di sebut Dalem Bedahulu sejak itu. Dalem = maharaja, sedangkan Bedahulu artinya berkepala yang beda sifatnya. Akan tetapi sebutan itu pada hakikatnya ialah untuk menyatakan, bahwa baginda tiada suka tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit sebenarnya. Gajah Mada yang menjadi patih-mangkubumi di Kerajaan Majapahit pada masa itu, setelah mendapat keterangan terjadinya perubahan suasana di Bali – demikian keterangan kitab itu selanjutnya – lalu berangkat dari Jawa Timur ke Bali, guna menyatakan kebenaran berita itu. Ia disertai oleh beberapa orang perwira yang menjadi pengikutnya, dengan mempergunakan sebuah jukung mereka tiba di pantai desa Lebih, yang terletak di daerah Bali selatan. Dari Desa Lebih mereka berjalan kaki menuju ke Desa Samprangan, di sana mereka melepaskan lelah sambil menunggu perkenan dari yang berwajib, guna melanjutkan perjalannya menuju keraton Bedahulu. Beberapa hari lamanya Gajah Mada tinggal di situ mendapat layanan yang memuaskan sebagai tamu yang terhormat, lalu ia mendapat perkenan pergi ke keraton menghadap baginda raja. Keberangkatannya ke keraton itu terlebih dahulu diisyaratkan oleh Pasung Gerigis supaya Gajah Mada tinggal tertib menghadap, sama sekali tiada boleh melihat ke atas panggung tempat baginda bersemayam. Larangan itu bersedia Gajah Mada mengindahkannya. Sampai di keraton di muka panggung itu, Gajah Mada segera duduk bersila sambil menundukkan kepalanya menyatakan cidmatnya. Atas pertanyaan baginda dari atas panggung itu, Gajah Mada lalu menerangkan maksud kedatangannya ke Bali, ialah guna menganjurkan perdamaian yang berarti menaklukkan katanya. Kesaktian baginda yang tiada taranya terdengar sampai ke Jawa, mendorong ia lekas-lekas pergi ke Bali demi kesentausaan kerajaan Majapahit, demikian hunjuknya. Sanjungan Gajah Mada dengan tutur katanya yang lemah lembut memuji-muji tentang keagungan dan kesaktian baginda raja, sungguh dapat menarik perhatian dan menggembirakan hati baginda raja, sehingga akhirnya baginda raja berkenan menyatakan keiklasannya menerima anjuran perdamaian itu. Sipat Gajah Mada yang membayangkan ketulusan pribadinya hendak menciptakan perdamaian itu ternyata dapat menghilangkan kesangsian baginda menerima kedatangan utusan dari Kerajaan Maja Pahit itu. Maka untuk menghormati kedatangan utasan dari kerajaan besar yang hendak bersahabat itu, lalu baginda raja memintakan kapada pelayan-pelayan keraton lekas menyediakan pesuguh untuk Gajah Mada. Atas pertanyaan baginda raja, Gajah Mada lalu menerangkan kebiasaan dan kegemarannya makan sayur pakis atau kangkung yang diplecing, tetapi yang tinggal panjang-panjang sebitannya. Untuk minum air ia bermohon supaya disediakan sebuah kendi yang curatnya kecil. Perpohonan Gajah Mada diluluskan, hidangan segera di suguhkan. Gajah Mada mulai makan sambil bercakap-cakap dengan kawan-kawan sejawatnya menyatakan kekaribannya. Ketika ia makan sayur kangkung yang panjang sebitannya itu dengan diangkatnya ke atas terlebih dahulu, Ia memperoleh kesempatan melepaskan pandangannya ke atas panggung sejenak. Akan tetapi ketika minum air dengan mengangkat kendi ke atas, Ia lebih lama menatap raut muka baginda yang hebat membayangkan keberingasannya. Sementara itu baginda memperhatikan cara Gajah Mada makan dan minum memperlihatkan ketidakjujuran hatinya, segera mementangkan panahnya, siap hendak membunuh Gajah Mada. Akan tetapi setelah baginda sadar, bahwa membunuh orang yang sedang makan besar dosanya di akhirat maka baginda tidak jadi melepaskan anak panahnya itu. Apalagi sesudah baginda insap akan kekebalan Gajah Mada sebagai duta, terpaksa baginda membatalkan maksudnya hendak melakukan pembunuhan itu. Baginda jatuh terkulai di atas pembaringannya lantaran tiada sanggup menahan geram dan perih yang sedang membakar perbendaharaan kalbunya. Setelah sadarkan diri baginda berkenan melepaskan Gajah Mada pulang kembali ke Jawa. Semenjak itu baginda merana mengenangkan tipu muslihat Gajah Mada yang dapat membahayakan kerajaannya. Karena kesal dan pilu, baginda lalu menderita gering akhirnya mangkat tiada antara lama kemudian. Jatuhnya kerajaan Bali ketika itu merupakan wujud dari kecerdasan tipu muslihat Patih Gajah Mada dengan menggunakan sarana kuliner kangkung dan tempat minum berupa kendi merupakan peristiwa sejarah tentang jatuhnya kerajaan yang ada di Bali. Di sisi lain, kuliner kangkung yang digunakan sebagai sarana oleh Patih Gajah Mada waktu itu diyakini sebagai awal kuliner serombotan di Klungkung |
Bahan dari Kuliner Serobotan Bahan-bahan dari kuliner serombotan terdiri dari : bahan Sayuran, bumbu kelapa dan bumbu koples Bahan Sayuran Bahan sayuran yang harus dipersiapkan dalam pengolahan kuliner serombotan antara lain sayur kangkung, sayur kangkung,bayam,toge, kacang panjang, buncis, tuung renyah (terong bulat), pare, kecai (kacang ijo yang baru mau tumbuh) undis (kacang hitam Bahan Bumbu Kelapa Kuliner serombotan merupakan olahan berbagai jenis sayuran yang dicampur atau dipadukan dengan olahan bumbu jadi terdiri dari; bawang putih, kencur, Isen (lengkuas), cabe besar dan kecil,terasi (dipanggang) minyak kelapa (asli Bali), kelapa (dipanggang) kemudian diparut, Garam yang disebut dengan bumbu kelapa. Bumbu Koples Bahan bumbu koples terdiri atas kacang tanah, terasi, gula merah, cabe kecil /cabe besar secukupnya, dan garam. Semua bahan bumbu diulek sampai halus kemudian diletakkan dalam sebuah mangkok atau tempat lain, dituankan air panas yang mendidih agar sedikit lebih encer sehingga campuran bumbu merata selanjutnya ditambahkan minyak kelapa asli Bali (tidak dari paberik) dan diperaskan air jeruk limau, lalu diaduk-aduk sampai merata siap digunakan. Fungsi Kuliner Serombotan Kalau kita gali fungsi atau kegunaan dari kuliner sayur serombotan tersebut maka ada beberapa fungsi dari kuliner serombotan itu yaitu : Fungsi Biologis Fungsi biologis disini dimaksudkan bahwa kuliner sayur serombotan tersebut memberikan fungsi atau kegunaan bagi tubuh manusia yaitu berupa makanan sayur serombotan yang sangat penting bagi tubuh manusia dalam rangka memenuhi vitamin dan serat yang dibutuhkan. Fungsi Historis Fungsi historis atau fungsi kesejarahan dari kuliner sayur serombotan adalah bahwa sayur serombotan itu pada masa lalu adalah makanan kerajaan (makanan Raja dan keluarga Raja di Bali pada umumnya dan Raja Klungkung beserta keluarga pada khususnya). Itu berarti kuliner sayur serombotan adalah makanan elit atau bangsawan kerajaan pada masa lalu / masa kerajaan. Namun demikian sesuai dengan perkembangan jaman, maka sekarang ini kuliner tradisional sayur serombotan tersebut sudah dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Bali pada umumnya dan bukan lagi menjadi makanan khusus di lingkungan kerajaan. Fungsi Sosiologi Fungsi sosiologis atau fungsi sosial dari kuliner sayur serombotan adalah bahwa kuliner serombotan itu memberikan ciri khas dan cita rasa tersendiri bagi masyarakat Bali pada umumnya dan masyarakat Klungkung pada khususnya karena di Kabupaten Klungkung inilah kemungkinan pertama kalinya munculnya sayur serombotan ini sehingga kini Kabupaten Klungkung sangat dikenal dengan sebutan Bumi Serombotan. Fungsi Edukatif Fungsi edukatif atau pendidikan bagi generasi muda dari kuliner sayur serombotan adalah dapat memberikan pengetahuan untuk generasi muda kita tentang keberadaan sayur serombotan itu sendiri, mulai dari sejarah munculnya sayur serombotan, bahan-bahan yang dipakai dalam serombotan, bumbu-bumbuan yang digunakan, cara meracik bumbunya, cara memasak sayurannya. Fungsi Ekonomi Kuliner sayur serombotan juga berperan penting dalam menunjang perekonomian masyarakat khususnya bagi pedagang sayur serombotan karena melalui usaha dagang serombotan yang sudah pasti laris manis setiap harinya akan mendatangkan rejeki yang sudah barang tentu akan dapat menunjang kehidupan ekonomi dari pelaku usaha / dagang serombotan tersebut. Demikian juga bagi masyarakat umum akan merasa diuntungkan dan dimudahkan dengan adanya pedagang sayur serombotan karena dengan uang yang tidak begitu besar sudah mendapatkan sayuran serombotan yang diharapkan untuk kelengkapan sajian makanan sehari-hari. Nilai Nilai yang terdapat pada kuliner serombotan Nilai Spiritual Nilai spiritual berkenaan dengan kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa yaitu suatu nilai yang meyakini adanya kekuasaan yang lebih tinggi . Dalam proses pembuatan , penjualan atau segala kegiatan yang dilakukan dalam proses pembuatan kuliner tradisional serombotan selalu diawali dan diakhiri dengan dengan beryadnya . Salah satu yadnya setelah selesai membuat kuliner tradisional ini yaitu ngejot yang menghaturkan sesaji berupa nasi dan serombotan ke pemerajan atau sanggah.. Hal ini juga dipertegas oleh suatu kegiatan berdoa mohon berkah dan keselamatan kepada Ida Sangyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ). Nilai Kebersamaan Nilai kebersamaan ini tercermin dalam Pembuatan kuliner tradisional serombotan dimana penjual bahan, pembuat serombotan masing-masing akan bekerja sama untuk menghasilkan makanan yang berupa serombotan. Penjual bahan serombotan akan berusa mencari bahan untuk di jual ke pembuat serombotan apa yang dapat mereka jual, begitu juga pembuat akan membeli bahan serombotan itu untuk di buat. Karena bahannya begitu banyak kemungkinan kerjasama dilakukukan dengan banyak orang yang menjual bahan serombotan . Setelah bahan terkumpul baru mereka lagi bekerjasa membuatnya ada yang mebersihkan sayurnya , memarut kelapanya, membuat sambalnya dan lain sebagainya Di sinilah timbul nilai kebersamaan ketergantungan dengan orang lain.
4.2.5. Nilai Rasa yang Spesial Kuliner sayur serombotan memang memiliki nilai rasa yang spesial dibandingkan dengan kuliner lainnya. Dalam sayur serombotan ada rasa pedas, manis, asam, asin, gurih, nikmat yang bersatu padu membentuk satu cita rasa yang khas sehingga membuat penikmat sayur serombotan menjadi ketagihan Nilai Estetika / Nilai Keindahan Kalau diperhatikan secara mendalam maka sayur serombotan itu juga sebenarnya mengandung nilai estetika atau nilai keindahan. Bahan yang di gunakan Sayuran kangkung yang hijau segar, sayur bayam yang juga hijau segar, terong bulang segar, kacang panjang, utik-utik, buncis, kecambah, kacang tanah, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai kecil, kelapa, minyak asli tandusan dan lain-lainnya semuanya memiliki bentuk yang unik, khas, dan indah karena semua itu adalah ciptaan Tuhan yang tiada duanya. Apalagi kalau sayuran itu sudah dimasak dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi tampak indah dan menarik serta menggugah selera penikmatnya. Bagi fotografer semuanya itu akan menyajikan foto yang indah dan menarik semua orang untuk melihat, mengenal, mencari dan menikmatinya. Dengan demikian sayur serombotan itupun mengandung nilai estetika atau nilai keindahan yang tidak dapat diragukan lagi. Nilai Ekonomis Nilai ekonomis sudah sangat jelas terkandung dalam kuliner sayur serombotan itu karena serombotan dapat diperjualkan di masyarakat sehingga akan membuat perputaran uang atau perekonomian yang saling menguntungkan antara penjual dengan pembeli. Nilai Kerakyatan Nilai kerakyatan sangatlah jelas terkandung di dalam kuliner sayur serombotan, karena sayur serombotan sudah merakyat di kalangan masyarakat Bali, mulai dari kalangan petani, pegawai, buruh, pedagang, pengusaha, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh adat, rohaniawan sampai kalangan bangsawan atau raja sudah mengenal sayur serombotan. Cara Pembuatan kuliner Serombotan Dalam pelaksanaan pembuatan serombotan, sebagian besar bahan-bahan sayuran yang telah ada disediakan direbus dengan tidak terlalu matang. Seperti kangkung, buncis, kacang panjang, bayam, pare, dan sebagainya. Semua bahan yang direbus dikumpulkan menjadi satu kelompok bahan dengan tempatnya masing-masing. Tujuannya adalah mempermudah pedagang serombotan tersebut ketika akan dihidangkan. Waktu merebus juga berbeda-beda karena jenis sayurannya tidak sama, ada yang cepat matang sehingga membutuhkan sedikit waktu, sedangkan jenis yang lain membutuhkan waktu lebih panjang sehingga merebusnya juga sedikit lebih lama. Di samping itu ada beberapa sayuran setelah dibersihkan dipotong terlebih dahulu sebelum direbus. Seperti kacang panjang, buncis, kangkung, dan sebagainya. Ketika sayur mayur bahan serombotan semua selesai direbus, bahan-bahan hasil rebusan dijadikan satu tempat dalam wadah dengan kapasitas lebih besar sehingga bahan serombotan tersebut lebih mudah diolah pada saat penyajiannya. Bahan-bahan lain seperti bumbu kelapa ataupun bumbu koples, kacang tanah goreng, kacang merah goreng dan bahan-bahan lainnya memiliki tempat tersendiri berdampingan dengan bahan-bahan sayur yang sudah tersedia menjadi satu meja Khusus sayur serombotan hasil rebusan terlihat jadi satu tempat, seperti bayam, kangkung, toge, dan yang lainnya. Terlihat juga bumbu kelapa, kacang tanah dan kacang merah yang telah digoreng, undis (kacang hitam), serta bahan lainnya ketika disajikan dijadikan satu dalam sebuah adonan. Ada beberapa bahan sayuran yang tidak ikut direbus seperti mentimun dan terong bulat, terkadang ada juga sebagian pedagang, kecai kacang ijonya tidak direbus karena banyak orang pelanggan yang senang campuran serombotannya ada kecai mentahnya. Secara umum bahan sayuran ini semuanya direbus kemudian rebusan sayuran itu di campur sesuai dengan selera di tambah dengan beberapa bahan laiannya seperti bumbu koples , bumbu kelapa dan kacanga-kacangan sesuai dengan selerah maka disebutlah sayur serombotan. |