Tari Rejang Ayunan
Pengertian Rejang Ayunan
Rejang Ayunan merupakan salah satu tari sakral yang dipentaskan pada saat pelaksanaan piodalan (upacara) di Pura Puseh Desa fan Pura Desa Pupuan maupun di Pura Puseh dan Pura Desa Bantiran. Nama Rejang Ayunan diadopsi dari proses berayun pada seutas tali yang diikat pada dahan pohon. Gerakan berayun konon terinspirasi dari proses pembukaan lahan hutan untuk lahan pemukiman dan pertanian pada masa lampau. Mereka menebang pohon-pohon besar menggunakan sarana tali untuk dapat naik ke pohon dan digunakan untuk berayun dari satu pohon ke pohon lainya. Perabasan hutan tersebut dipergunakan sebagai membangun pemukiman dan lahan pertanian.
Tari Rejang Ayunan dipentaskan dalam upacara piodalan di Pura Puseh dan Pura Desa Bantiran yang berlangsung pada saat purnama sasih kelima (purnama bulan November). Sedangkan piodalan di Pura Puseh dan Pura Desa Pupuan berlangsung pada purnama sasih kapat (purnama bulan Oktober). Di Desa Pupuan, Tari Rejang Ayunan berlangsung di jaba (sisi luar atau di depan) diikat pada salah satu cabang pohon cempaka yang konon sudah ada sejak dahulu dan memiliki batang besar.
Sejarah Tari Rejang Ayunan
Pementasan tari Rejang Ayunan telah berlangsungnya secara turun-temurun sejak dahulu kala. Diperkirakan tari Rejang Ayunan telah ada sejak terbentuknya Desa Pupuan. Pada masa lampau, Desa Pupuan menjadi satu dengan Desa Bantiran. Desa Bantiran itu sendiri merupakan desa kuna yang menempati posisi penting yakni sebagai yang disebutkan dalam beberapa prasasti berangka tahun çaka 923 (1001 Masehi) yang dikeluarkan atas nama Ratu Sri Gunapriyadharmapatni istri Raja Sri Dharmodayana Warmadewa.
Desa Bantiran juga disebut dalam prasasti Gobleg, Pura Batur A yang dikeluarkan atas nama raja Sri Ugrasena (915-936 Masehi). Dari isi prasasti gobleg, Pura Batur A ini diketahui bahwa pada saat peresmian sebuah bangunan suci di Desa Tamblingan, banyak pejabat-pejabat desa sekitarnya yang hadir menyaksikan upacara tersebut, dan salah satunya adalah Nayakan Bantiran. Mengingat lokasi Desa Bantiran dan Desa Tamblingan pada masa lampau adalah desa yang berdekatan, maka kata Nayakan Bantiran dapat diduga Pejabat atau tetua Desa Bantiran.
Prasasti di Pura Desa Sading Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung menyebutkan bahwa tahun 1072 saka (1150 Masehi), bulan cetra, tanggal 12 bulan paro terang, hari tunggleh wuku julung pujut, pada hari itulah Sri Maharaja Jayasakti menerangkan tentang peristiwa perpecahan penduduk Desa Bantiran. Sebagian penduduk pergi hanya tersisa satu keluarga saja yang tinggal menetap. Keluarga tersebut kesulitan membayar pajak, iuran, dan melaksanakan kewajiban upacara sehingga baginda Raja Jayasakti memerintahkan penduduk Desa Bantiran sekalian wilayah taklukannya dibebaskan dari hutang-piutang dan iuran-iuran selama 5 tahun,
Berdasarkan prasati tersebut, Desa Bantiran dari dulu menjadi satu dengan Desa Pupuan. Setelah mengalami perkembangan penduduk, beberapa keluarga membuka hutan untuk membentuk pemukiman baru dan lahan pertanian. Lama kelamaan mereka mendirikan tempat-tempat pemujaan, salah satu satu di antaranya Pura Puseh dan Pura Desa. Setelah pembangunan pura selesai, masyarakat melaksanakan upacara Ngusaba Tegteg atau Ngenteg Linggih. Dalam upacara inilah pertama kali dipentaskan Tari Rejang Ayunan, yang idenya diambil ketika mereka merabas hutan.
Pelaksanaan Upacara
Prosesi Upacara piodalan di Pura Puseh dan Pura Desa Pupuan berlangsung selama 4 hari dengan urutan sebagai berikut.
- Piodalan Purnaming Sasih Kapat.
Rangkaian prosesi pada hari pertama dilaksanakan mulai pukul 09.00 Wita sampai selesai. Diawali dengan acara mecaru, metelah-telah, dan ngelemeji, mebiokaonan (pembersihan), selanjutnya dilaksanakan prosesi munggah bunga yaitu memasang penjor sebagai tanda mulainya upacara piodalan. Pada saat ini dipentaskan tari Rejang Daa Sari dan Rejang Daa Teruna. Tari Rejang Daa Sari ditarikan oleh para daa (gadis yang belum menikah), tari Rejang Daa Teruna ditarikan oleh para teruna (pemuda yang belum menikah). Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat sembahyang.
- Penganyaran
Rangkaian upacara dimulai pagi hari hingga selesai. Pada hari kedua ini juga dipentaskan tari Rejang Daa Sari dan tari Rejang De Truna masing-masing sebanyak tiga kali putaran.
Selanjutnya prosesi mapeed (mengusung peralatan upacara menuju Pura Pura Duur Kauh
Kayu Padi dengan diringi gamelan baleganjur. Dilanjutkan dengan prosesi upacara piodalan di Pura Duur Kauh Kayu Padi dan dipentaskan tari Baris Ketekok Jago. Setelah selesai upcara di Pura Kayu Padi sesuhunan (simbol Tuhan) kembali ke Pura Puseh. Pada malam harinya, pukul 00.00 Wita dipentaskana Tari Rejang Pulu yaitu tarian yang dipentaskan oleh para pemangku istri dengan membawa pulu (wadah beras terbuat dari tanah liat). Pulu yang berisi beras dijunjung di atas kepala sambil menari. Usai prosesi tarian Rejang Pulu, beras tersebut ibagikan kepada Masyarakat sebagai bentuk pemberian anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa.
- Penyuwung
Pada hari ketiga, merupakan hari pelaksanaan tari Rejang Ayunan. Prosesi upacara dimulai pada pukul 09.00 Wita dengan mementaskan tari Rejang Daa Sari dan tari Rejang Daa Teruna sebanyak sembilan kali putaran. Dilakukan secara bergantian dimulai dengan tari Rejang Daa Sari, kemudian dilanjutkan dengan tari Rejang Daa Truna, begitu terus menerus secara bergantian sebanyak sembilan kali. Semua penari baik para penari Rejang Daa Sari maupun para penari Rejang Daa Teruna mengenakan pakaian tari berwarna putih kuning. Usai menari sembilan putaran para penari dan semua warga desa mesandekan (istirahat) kira-kira 1 jam. Setelah istirahat, Kembali dipentaskan tari Rejang Daa Sari dan tari Rejang Daa Truna. Mereka menari bebarengan sebanyak dua kali putaran dengan didampingi oleh pemangku (pemimpin upacara). Setelah selesai melakukan putaran terakhir, penari Rejang Daa Sari menyelesaikan pementasan. Sedangkan para penari Rejang Daa Teruna mementaskan tari Rejang Ayunan. Dalam mempersiapkan tari Rejang Ayunan, para teruna berkumpul berbaris di mulut candi bentar (pintu gerbang pura) menunggu giliran mementaskan tari Rejang Ayunan. Sebagai pemahbah (penari pembuka) dilakukan oleh pemangku, kemudian dilanjutkan oleh kelian adat, kelian daa teruna (ketua karang taruna), dan para penari lainnya, sampai semua penari mendapat giliran berayun. Dalam hal ini, tari Rejang Ayunan adalah proses ketika masing-masing penari berlari dari candi bentar (pintu gerbang pura) menggapai tali yang tergantung pada cabang pohon cempaka, kemudian memanjat tali sambil berayun.
- Pangelebar
Pada hari keempat, yaitu hari terakhir dalam rangkaian prosesi piodalan di
Pura Puseh Lan Desa Bale Agung dilaksanakan suatu persembahan berupa
upacara yang disebut dengan pengelebar karya sebagai suatu prosesi bahwa upacara
piodalan telah usai dimana juga sebagai bentuk memohon Wara Nugraha agar
dianugrahkan keselamatan dan kedamaian.
Bentuk Pementasan Tari Rejang Ayunan
Pementasan Tari Rejang Ayunan dimulai dengan mempersiapkan diri dengan berias di rumah masing-masing. Sebagian masyarakat bertugas ngayah megambel (memainkan instrumen gamelan). Instrumen gamelan yang digunakan adalah gamelan Gong Kebyar. Penari yang sudah bersiap untuk menari akan diperciki tirta sebelum melakukan pementasan sebagai bentuk memohon agar senantiasa diberi keselamatan dan pementasan berjalan dengan baik.
Sebelum pementasan tari Rejang Ayunan, dipentaskan Tari Rejang Daa Sari dan Tari Rejang Daa Teruna sebanyak sembilan kali putaran. Dilakukan secara bergantian dimulai dengan Tari Rejang Da Sari, kemudian dilanjutkan dengan Tari Rejang Daa Truna. Demikian terus menerus secara bergantian sebanyak sembilan kali. Penari Tari Rejang Daa Sari ditarikan oleh para gadis menggunakan busana tari berupa kebaya warna putih dan kain panjang warna kuning, selendang kuning, dan rambut didtata model Pasung Gonjer berhias bunga emas. Penari Rejang Daa Sari membawa Canang Sari dan Pangkonan. Sebaliknya untuk penari Rejang Daa Teruna, mengenakan busana model Metoros (Sesaputan) warna putih kuning. Udeng (ikat kepala), baju dan Kamen (kain Panjang) berwarna putih. Saput dan Umpal berwarna kuning, juga dilengkapi dengan Seselet/Kadutan (keris). Pementasan tari Rejang Daa Teruna dilengkapi dengan membawa Pasepan, Pajeng Pagut, Tombak, Pis Bolong (Uang Kepeng). Sarana ini merupakan simbol Dewata Nawa Sanga, yakni Dewa-Dewa penjaga atau yang berstana di sembilan penjuru arah mata angin.
Setelah selesai pementasan tari Rejang Daa Sari dan Rejang Daa Truna, dilanjutkan pementasan Tari Rejang Ayunan yang dilaksanakan oleh para Daan Teruna (penari laki-laki saja). Penari Tari Rejang Ayunan terdiri dari pemuda usia 14 tahu ke atas yang belum menikah. Pementasan Rejang Ayunan, dipimpin oleh seorang pemangku (pemimpin upacara). Dilakukan sebanyak 3 kali putaran. Pada putaran terakhir tempo dari gambelan (music pengiring) dipercepat untuk memompa semangat para penari.
Gerakan inti tari Rejang Ayunan disebut tajong-tajong meliputi beberapa gerakan sebagai berikut.
- Nglenjong kanan, posisi badan condong ke depan (mebungkuk), kaki kiri diangkat ke belakang kira-kira 90 derajat, kaki kanan sebagai tumpuan. Tangan kanan lurus ke depan (tangan ngadah), sedangkan tangan kiri di belakang pinggang (tangan dikepal).
- Nglenjong kiri, posisi badan condong ke depan (mebungkuk), kaki kanan diangkat ke belakang, kaki sebelah kiri sebagai tumpuan. Tangan kiri lurus ke depan (tangan tengadah), sebaliknya tangan kanan di belakang pinggang (tangan dikepal).
- Nyeregseg kanan, gerakan ini dilakukan ke arah pojok kanan depan, dimana gerakan kaki kanan diikuti gerakan kaki kiri.
- Nyeregseg kiri, gerakan ini dilakukan ke arah pojok kiri depan Gerakan kaki kiri diikuti oleh gerakan kaki kanan. Semua gerakan diatas dilakukan dengan gerakan melompat-lompat.
Setelah usai mementaskan Rejang Daa Teruna, para penari menuju jaba sisi dimana terdapat pohon cempaka sebagai sarana untuk melakukan prosesi ayunan. Sebuah tali tambang sudah disiapkan sebelumnya dimana salah satu ujung tali telah diikatkan pada salah satu dahan pohon cempaka, sementara bagian tali lainnya menjuntai kebawah agar nantinya bisa diraih oleh para penari. Pada cabang pohon tersebut juga sudah diikatkan banten pejati (sarana upacara) dilengkapi makanan, daging ayam, kue, buah-buahan, hasil bumi, dan sesari (uang). Setelah semua memperoleh giliran berayunan, penari yang mendapat giliran berayunan paling terakhir naik ke cabang pohon melalui tali tambang yang sudah disiapkan sebelumnya dan mengambil banten pejati yang diikat di atas cabang pohon cempaka kemudian isinya disebarkan kepada masyarakat yang sudah menunggu dibawah.
Sebagai prosesi akhir dari pementasan Tari Rejang Ayunan, dilaksanakan
prosesi mapedanan-danan, dimana penari terakhir yang berada diatas pohon
membagikan uang sesari kepada masyarakat yang berada di bawah pohon dengan cara
dihamburkan. Suasana pun menjadi ramai dan penuh gelak tawa memperebutkan uang sesari. Mapedanan-danan bermakna anugerah Ida Bhatara Rambut Sedana (Tuhan dalam manifestasi sebagai penguasa harta benda, khususnya uang) yang telah
memberikan berkah kepada Masyarakat.
Waktu dan Tempat Pementasan
Pementasan Tari Rejang Ayunan dilaksanakan pada hari ketiga setelah piodalan di Pura Puseh Desa Bale. Mengingat rangkaian acara yang begitu banyak pada saat piodalan, maka pementasan Tari Rejang Ayunan dilaksanakan di hari ketiga. Maka, hari ketiga menjadi hari puncak keramaian dalam upacara piodalan di Pura Puseh dan Pura Desa Bale Agung, mengingat pada hari tersebut, masyarakat Desa Adat Pupuan melaksanakan pementasan Tari Rejang Ayunan. Tari Rejang Ayunan tidak dipentaskan pada saat piodalan yang jatuh pada Purnamaning Sasih Kapat, melainkan hari ketiga yaitu pada, dikarenakan terdapat filosofis dimana hasil dari sesuatu yang kita tanam tidak serta merta didapat pada saat itu juga, melainkan harus menunggu agar membuahkan hasil.
Tempat pementasan Tari Rejang Ayunan tidak dibuat khusus melainkan memanfaatkan areal jaba tengah yang cukup luas dan tumbuh pohon cempaka dalan ukuran besar sebagai tempat pementasan Rejang Ayunan. Pada bagian tengah areal pementasan terdapat penjor agung yang akan diitari oleh penari Rejang Ayunan sebanyak 3 (tiga) kali putaran selama pementasan. Dan dilanjutkan dengan prosesi berayunan di jaba sisi pura.
Pihak-pihak yang Terlibat
Tiga unsur utama yang memiliki peran yang penting dalam pelaksanaan ritual keagaaman umat Hindu di Bali lazim disebut tri manggalaning karya. Ketiga unsur tersebut, yaitu Sang Yajamana (orang yang menyelenggarakan upacara), Sang Widya/Pancagra (orang ahli tertentu seperti tukang banten/serati banten, olah-olah ben banten/tukang mebat dan sebagainya), dan Sang Sadaka adalah para rohaniawan yang bertugas memimpin dan mengantarkan upacara yadnya dengan puja, seha, mantra (Wiana, 1993 : 109). Berdasarkan uraian diatas, dalam pelaksanaan pementasan Tari Rejang Ayunan melibatkan beberapa pihak, yaitu;
- Penari Rejang Ayunan, adalah pemuda Desa Adat Pupuan dengan ketentuan umur lebih kurang 14 tahun hingga yang belum menikah (truna).
- Jro mangku Pura Puseh Lan Desa Bale Agung, sebagai pihak yang bertugas memimpin jalannya pementasan, baik sebelum pementasan hingga berakhirnya pementasan.
- Pemain gamelan, merupakan instrumen musik untuk mengingi pementasan tari Rejang Ayunan. Pemain gamelan merupakan masyarakat Desa Adat Pupuan yang mendapatkan tugas memainkan gamelan. Biasanya tugas ini dibagi secara periodik antar kelompok masyarakat/krama banjar.
- Serati banten, bertugas membuat upakara sebagai sarana pelengkap upacara. Dalam pementasan tari Rejang Ayunan, terdapat sarana upakara berupa banten pejati yang dibuat oleh serati banten.
Fungsi dan Nilai Budaya
Pementasan tari Rejang Ayunan berfungsi sebagai media untuk memohon keselamatan dan ucapan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Di samping itu, tari Rejang Ayunan juga berfungsi sebagai alat pemersatu, media interaksi, sosialisasi, dan internalisasi nilai-nilai budaya. Implementasi nyata tari Rejang Ayunan adalah menjadi sarana pembinaan bagi generasi muda dalam melestarikan warisan leluhur yang terdapat di Desa Adat Pupuan Kabupaten Tabanan.
Nilai-nilai terkandung di dalam pementasan Tari Rejang Ayunan meliputi nilai religius, nilai etika, nilai estetika, dan nilai solidaritas. Nilai religious mampu memperkuat keyakinan terhadap Tuhan. Nilai etika mengajarkan tata krama, pemahaman baik dan buruk suatu perbuatan. Nilai estitika tampak dari kreasi keindahan dalam kostum, tata gerak, music pengiring tari Rejang Ayunan. Keindahan mampu menimbulkan rasa senang dan Bahagia bagi orang yang menyaksikannya. Nilai solidaritas tampak dari kerjasam dan kekompakan seluruh elemen Masyarakat yang terlibat dalam tari Rejang Ayunan.