Tradisi Amuk - Amukan
Tradisi Ngamuk-amukan di Desa Adat Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng tergolong unik bagi warga yang ada di luar wilayah desa itu. Keunikannya itu terlihat dari sarana yang digunakan yaitu daun kelapa kering yang diikat menyerupai sapu, dalam Bahasa Bali disebut prakpak atau danyuh. Tradisi Ngamuk-amukan di Desa Adat Padangbulia tergolong sakral karena dipercaya memiliki sifat magis. Tradisi ini menggunakan prakpak yang dibakar sebagai cerminan simbol Dewa Agni. Tradisi ini dipercaya dapat mengusir kekuatan negatif saat malam Pengerupukan maupun saat umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian. Sarana yang digunakan sangat sederhana, yakni daun kelapa kering atau danyuh yang diikat menyerupai sapu dan beberapa kaleng besar yang terbuat dari seng digunakan sebagai menyerupai gamelan untuk mengiringi pelaksanaan Tradisi Ngamuk-amukan ini. Masyarakat setempat juga menyebutnya mapuput.Dalam tradisi ini, api prakpak digunakan untuk menyerang kawan satu sama lain sehingga terlihat seperti perang antara dua kelompok masyarakat. Namun harus dipastikan terlebih dahulu bahwa dari para pemuda yang akan mengikuti Tradisi Ngamuk-amukan ini tidak ada yang memiliki sentiment pribadi. Tradisi ini sebenarnya dilaksanakan dengan spontan setelah pawai ogoh-ogoh dan upacara pecaruan. “Tidak ada catatan sejarah dalam awig-awig desa terkait tradisi ini”. Meski tanpa pengamanan yang memadai, tidak ada anggota masyarakat desa itu mengalami luka sedikit pun. Pada malam pengerupukan, tepatnya di kawasan Pura Desa, ratusan warga berkumpul di tepi jalan untuk menyaksikan tradisi ini.