Tradisi Kebo Dongol
Tradisi Kebo Dongol adalah tradisi sakral, yang dilaksanakan setiap 6 ( enam ) Bulan sekali setiap Piodalan di Pura Kahyangan Jagat Dhalem Bangun Sakti, Br.Basang Tamiang,Desa Adat Kapal,Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Pura Dhalem Bangun Sakti disungsung oleh 1.015 kk, yang tersebar diseluruh pelosok Pulau Bali. Puja Wali atau Piodalan jatuh pada Hari Budha Wage Langkir dan Ida Bhatara Nyejer selama 3 ( tiga ) hari .
Tradisi Kebo Dongol itu berwujud menyerupai Kerbau hanya boleh dibuat oleh Pemangku Pura. Kebo Dongol terbuat dari adonan ketan berbentuk Kebo / kerbau yang dihias sedemikian rupa dan ditancapi bunga kembang sepatu merah ( pucuk bang ) dengan sanan penyangga dari tebu ratu lengkap dengan bahan nginang yaitu : sirih, pamor,gambir tembakau dan buah pinang, pada Puncak Puja Wali yaitu pada Hari Buda Wage Langkir umat dari pagi hari berdatangan tangkil ke Pura untuk menghaturkan sembah bhakti kehadapan Ida Bhatara dan persembahyangan berakhirsekitar jam 22.00 wita. Pukul 23.00 wita Upacara Pujawali dan Tradisi Kebo Dongol dimulai, semua Pemangku duduk di Bale Pengaruman termasuk para Serati, pengayah pembawa Kebo Dongol untuk memuja Ida Bhatara guna menghaturkan Upacara Pujawali dan Ritual Kebo Dongol.
Sebagai sebuah tradisi yang sakral maka perangkan yang terlibat dalam tahapan prosesinya pun juga tidak dapat dilakukan dengan asal – asalan, misalnya salah satu perangkat dalam tradisi ini adalah pembawa Kebo Dongol, hanya dilakukan oleh laki – laki yang merupakan Warga Desa Adat Kapal dan dilakukan secara turun temurun dengan memenuhi kriteria yang sudah berlangsung sejak awal tradisi ini ada. Kriteria yang dimaksudkan diantaranya yaitu Pembawa Kebo Dongol adalah laki – laki Warga Desa Adat Kapal yang telah berkeluarga dan merupakan keturunan dari pembawa Kebo Dongol sebelumnya. Apabila ada pergantian Pembawa Kebo Dongol maka harus dilakukan Upacara tersendiri sebagai saraana pengukuhan bahwa yang bersangkutan sudah diperbolehkan sebagai pembawa Kebo Dongol.
Pelaksanaan Tradisi Kebo Dongol pada hakekatnya merupakan persembahan terhadap Para Dewa maupun Bhuta Kala, tujuannya untuk menyeimbangkan kedua kekuatan tersebut. Pelaksanaan Upacara Piodalan yang disertai Pementasan Tradisi Kebo Dongol pada dasarnya untuk menyeimbangkan alam semesta beserta isinya yang pada akhirnya untuk mewujudkan alam berseta isinya menuju pada kesucian lahir batin. Tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal bertujuan menyeimbangkan kembali kehidupan manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Manusia yang sakit agar segera sembuh begitu pula tanaman pertanian terhindar dari hama penyakit sehingga mendapatkan hasil panen yang baik, dan setiap usaha yang dilakukan oleh masyarakat di berkati oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang pada akhirnya dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat
Tradisi Kebo Dongol Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung di tinjau dari fungsinya memiliki fungsi filosofi untuk memberi arti harmonisasi semesta ( Tri Hita Karana ) pemberi arti katarsis, pendakian kehidupan, dari tak suci ke sucian lahir batin dan pemberi arti merajut rasa toleransi dan kebersamaan. Fungsi historis Tradisi Kebo Dongol sebagai media penerangan masa lampau dan menjadi media edukatif yang memberi arti penalaran, moral, kebijaksanaan, politik, perubahan dan pendidikan masa depan. Fungsi Sosiologis dari Tradisi Kebo Dongol untuk menguatkan bangunan religious masarakat, sehingga tercapai kesejahteraan, edukasi dan membina kerukunan dan persatuan antar warga Desa Adat Kapal di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
Makna penting dari Tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal, ternyata berhasil mengimplementasikan keharmonisan yang bersifat Universal yaitu berupa pendalaman terhadap arti penting menjaga hubungan harmonis dalam hidup dan kehidupan yaitu Tri Hita Karana. Tiga hal yang mendasar, menjadikan manusia dengan seisinya harmonis yaitu : terwujudnya harmoni kehidupan antara Manusia dengan Tuhan ( Parhyangan ), Manusia dengan sesama manusia itu sendiri (Pawongan ) dan Manusia dengan lingkungan hidupnya (Palemahan ).